Selasa, 06 Maret 2012

alkes,,( mayor set )


BAB II
PEMBAHASAN
MAYOR SET

v  PENGERTIAN MAYOR SET
Mayor set adalah seperangkat instrument/ alat-alat kesehatan yang digunakan oleh para operator di ruang bedah.

v  FUNGSI UMUM MAYOR SET
Mayor set biasanya digunakan dalam proses pembedahan/ operasi besar.

v  MACAM-MACAM MAYOR SET
Alat-alat mayor set terdiri dari:
  1. Scalpel dan scalpel handle
  2. Gunting
  3. Forceps
  4. Needle Holders
  5. Probes
  6. Instrument tray
  7. Instrument tray w/ cover

  1. Scalpel dan scalpel Handle
Scalpel adalah pisau operasi atau pisau bedah.
Scalpel handle adalah gagang atau tangkai pisau yang fungsinya sebagai pegangan pisau operasi atau scalpel.


  1. Gunting ( scissors)
Gunting adalah suatu alat ynag digunakan untuk memotong suatu barang atau benda.
Gunting terdiri dari beberapa macam, yaitu
  1. Bandage scissor
Alat ini berfungsi untuk menggunting perban atau kain has.
Ada beberapa macam type yang terkenal diantaranya:
o   Type Lister ( bersudut)
o   Type kanowles ( tidak bersudut)


http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-04.jpg                         
                      Type Lister ( bersudut)                         Type kanowles ( tidak bersudut)

  1. Liguster scissor
Liguster scissor adalah gunting yang digunakan untuk menggunting jahitan luka-luka. Umumnya ujung gunting satu melengkung.
Ada beberapa tipe yang terkenal, yaitu:
o   Type Spencer
o   Type Littauer
o   Type Northben
o   Type Haeth
o   Type Sistrunk
http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-03.jpghttp://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-02.jpghttp://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-11.jpg












  1. Surgical scissor
Surgical scissor adalah gunting yang digunakan dalam pembedahan. Ada beberapa type yang terkenal, yaitu:
  1. type Strully
  2. Type Sathinsky
Gunting ini khusus untuk pembedahan jardiovaskuler.

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-09.jpg                  http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-06.jpg
type Strully                                         Type Sathinsky


  1. Dissecting scissor
Dissecting scissor adalah gunting yang digunakan untuk memotong jaringan tubuh.
Alat ini terdiri dari beberapa type, yaitu:
o   Type Medzenbaung
o   Type Kliner
o   Type littler
o   Type Debakey
o   Type Tendon

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-08.jpg               http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/sciss-09.jpg


  1. Umbilical cord scissor
Alat ini digunakan untuk memotong pusar bayi









  1. Episiotomy scissor
Aat ini digunakan untuk memotong vulva.
Alat ini terbagi lagi menjadi 2, yaitu:
  1. aunstadler
  2. Lawsontait



  1. Forceps
Forceps adalah suatu alat yang terdiri dari 2 keping yang saling berhadapan, yang dapat dikontrol ( dapat dijepitkan dan dilepaskan) oleh pegangan atau oleh tekanan langsung pada keping-keping tersebut.
Forcep terdiri dari beberapa macam, yaitu:
  1. Pinset
Pinst terbagi dalam beberapa bagian, yaitu
Ø  Anatomi pinset
Anatomi pinset dgnakan untuk menjepit jaringan lunak saat menjahit luka.














Ø  Chirurgische pinset

Pinset ini adalah pinset yang digunakan untuk menjepit jaringan keras saat menjahit luka, dengan cirri ujung keduanya bergerigi.





Ø  Cilia pinset
Cilia pinset adalah pinset untuk menjepit dan mencabut rambut, alis matadan janggut.

 

Ø  Splinter pinset
Alat ini ada yang berupa pinset dan tang, dengan ciri:
Kedua ujung runcing seperti ujung tombak yang digunakan untuk mencabut pecahan atau kepingan apap[un yang menancap di permukaan kulit tubuh.


Ø  Pinset Telinga.
Type yang terkenal yaitu Wilde dan Lucae. Pinset ini berfungsi untuk mengeluarkan benda asing dari rongga dalam teling

Ø  Pinset agrave
Pinset ini digunakan untuk menjepit elip pada luka-luka sehingga tidak terbuka. Cirri-cirinya yaitu kedua ujung bergerigi dan di bawah kedua gigi terdapat lekukan yang berfungsi untuk tempat ujung elip supaya dapat ditekan.



Ø  steriliseer pinset
Alat ini digunakan untuk menjepit benda yang akan disterilisir.



b). Klem ( Stamp )
klem adalah suatu alat untuk menjepit ( memegang dan menekan ) sesuatu benda. Klem bias berupa jepitan dan ada juga yang penggunaannya menggunakan alat mur bersayap yang diputar.
Klem terdiri dari beberapa macam, yaitu :

1.      Arteri klem
arteri klem tergolong alat seperti pegangan gunting dengan setelan, sedangkan kedua tepi kepingnya dihubungkan yang satu dengan yang lainnya. Kedua jepitan bagian atas ada yang lurus (straight), bengkok (curvet).


2.      Buldog klem
Alat ini juga termasuk arterio klem. Alat ini digunakan untuk menjepit luka agar darah tidak mengalir keluar. Bentuknya seperti pinset, hanya cara menggunakannya berbeda yaitu bila ditekan dengan jempol klemnya akan terbuka.
      type bulldog klem, yaitu :
A.    Type dieffer bach
B.     type hopkims
C.     type de bakey



3.      Peritonium klem
Klem yang ujungnya bergerigi dan bentuk klemnya bengkok, bagian dalam ujung klem ada yang bergaris horizontal dan vertikal.

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-16.jpg



4.      Hysterekromie Klem
Alat ini digunakan dalam ginaekologi untuk menjepit ketika pembedahan uterus.
           
http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-16.jpg
http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-17.jpg
           


5.      Doeck klem
Alat ini digunakan untuik menjepit kain operasi ( berlubang tengah ).

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-10.jpg


6.      Circumsission klems
Alat ini berbentuk spesifik, menjepit bila diputar mur bersayap. Alat ini digunakan untuk menyunati kulit luar.


7.      Abdominal klem
Alat ini untuk menjepit isi perut. Abdominal klem terdiri dari :
-          Darm klem
-          Maag klem
-          Pyiorus klem
-          Apendikotomy klem
-          Anastomosis klem



8.      Umbilikal cord klem
Alat untuk menjepit tali pusar bayi

     c. Tang
Tang terdiri dari :
o   Korentang
Koorntang digunakan untuk menjepit dan mengikat alat bedah dari dalam instrumenten bak.

o   Steriliser tang
Alat ini berfungsi untuk menjepit dan mengangkat alat yang disterilisir terutama yang bulat dan agak berat.

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-08.jpg


o   Tong tang
Tong tang yaitu alat untuk menjepit lidah agar terjulur keluar dan tidak mengganggu pernafasan saat pemberian sonde.

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-19.jpg


o   Kongel tang
Alat ini digunakan untuk menjepit dan mengangkat organ jaringan tubuh dan benda asing yang berada dalam tubuh termasuk peluruh.




o   Knabbel tang
Alat ini digunakan untuk memotong tulang ( jari tangan dan kaki).



o   Verlos tang
Alat ini digunakan untuk membantu persalinan yang ada kelainannya.




o   abortus tang
Alat ini digunakan untuk keperluan abortus.





o   Haken tang
Alat yang digunakan untuk pengguguran kandungan atau abotus

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-17.jpg


o   Uterus tang
Fungsi alat ini yaitu untuk mengangkat uterus.



o   Tampong tang
Alat untuk memasukan tampon kedalam vagina atau mengeluarkannya.

http://www.elahigrp.com/arona/products/scissors/forcp-16.jpg



o   Suture forceps
Suture forceps adalah alat untuk menjepit luka yang terbuka dan mengangkat elipnya

  1. Needle holders
           Alat ini berfungsi untuk menjepit jarum jahit ( hechtnaald) serta menjahit luka
          Terbuka.



  1. Probers
          Alat yang digunakan untuk mengukur dalamnya suatu rongga dalam tubuh.



      6.  Instrument tray
         Alat ini digunakan untuk meletakkan alat-alat kesehatan yang belum steril. Pada
         alat ini tidak manggunakan penutup.









     7. Instrument tray / cover
Alat ini digunakan untuk meletakkan alat-alat kesehatan yang telah steril. Pada alat
ini menggunakan penutup.
































KATA PENGANTAR


Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karna berkat rahmat-Nyalah kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul MAYOR SET walaupun dalam bentuk sederhana.
Tak lupa pula salawat dan salam kami haturkan kepada junjungan kami, Nabi besar Muhammad SAW.
Dalam penulisan makalah ini, kami sadar bahwa makalah kami ini masih jauh dari kesempurnaan karma kami hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan bantuan dari teman-teman sekalian yang berupa saran, kritik dan lain-lain yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amiiiiiiiiiieeeeen………



Ambon, 03 desember 2008


Kelompok






BAB I
PENDAHULUAN

Ø Latar Belakang
Kehipan sehari-hari pada umumnya tidak asing lagi dengan apa yang disebut operasi. Selain itu ada nama alat-alat yang dalam ilmu kesehatan digunakan untuk operasi yang sudah dikenal oleh kalangan masyarakat. Misalnya forcep, gunting dan klem. Namun, yang dimaksud sesungguhnya dalam bidang kesehatan adalah alat-alat khusus yang hanya digunakan pada saat operasi sehingga tidak sembarangan digunakan oleh masyarakat, yang dalam ilmu kesehatan dikenal dengan nama “MAYOR SET”.
            Berdasarkan hal itu, maka perlu dibuat makalah ini agar memberikan informasi awal bagi pembaca dan sebenarnya mayor set itu dan bagaimana menggunakannya.

Ø  TUJUAN
                                                              i.      Untuk mengetahui dengan baik alat-alat yang digunakan oleh para operator dalam operasi.
                                                            ii.      Bahan informasi bagi para pembaca mengenai kegunaan masing-masing alat yang digunakan  










DAFTAR PUSTAKA

2.http://www.midwiferymercantile.com/images/umbilical%20scissors%20american%20p
   attern. Jpg
























BAB III
PENUTUP
1.     kesimpulan
a. Mayor set adalah seperangkat instrument atau alat-alat kesehatan yang digunakan 
    oleh para operator di ruang bedah
  1. Mayor set terbagi atas 11 bagian dengan kegunannya masing-masing

2.     Saran
Bagi para pembaca kiranya dapat menjadikan makalah ini sebagai sumber bacaan guna menambah pengetahuan tentang mayor set dengan baik sehingga pada saat menggunakannya tidak terjadi kesalahan.





























Minggu, 26 Juni 2011

SISTEM PENCERNAAN


SISTEM PENCERNAAN
System pencernaan terdiri dari organ-organ utama yang meliputi  saluran pencernaan yang merupakan suatu pipa panjang mulai dari mulut, esophagus, gaster, usus halus, usus besar  (colon), rectum dan anus serta organ asesori yang meliputi kelenjar saliva, hepar, pancreas dan kandung empedu.
FUNGSI SYSTEM PENCERNAAN
System pencernaan berfungsi menyediakan nutrient bagi kebutuhan sel melalui proses ingesti, digesti dan absorbs serta menyediakan sarana eliminasi bagi makanan yang tidak dapat dicerna melalui proses defekasi.
·         Ingesti
Pada proses ingesti, makanan yang berada dilingkungan masuk kedalam tubuh melalui pengunyahan yang dilakukan koordinasi otot rangka dan system saraf sehingga makanan menjadi lebih halus dan pada saat yang bersamaan makanan bercampur dengan saliva yang disekresikan oleh kelenjar saliva sehingga makanan menjadi licin dan mudah ditelan. Saat makanan ditelan, terjadi kerjasama otot-otot menelan yang dipersyarafi oleh dua jenis syaraf yaitu syaraf  autonom melalui N.X, saraf Cranialis (N.IX dan N.XII) dan syaraf enteric melalui pleksus Auerbach. Nampak bahwa proses menelan berlangsung sebagian secara disadari dan sebagian secara tidak disadari.
·         Digesti
Digesti adalah perubahan fisik dan kimia dari makanan dengan menggunakan bantuan enzim dan koenzim yang pengeluarannya diatur oleh hormon dan syaraf, sehingga makanan menjadi molekul-molekul yang dapat diabsorpsi kedalam aliran darah. Misalnya hidrat arang menjadi monosakarida, lemak menjadi asam lemak dan gliserol, dan protein menjadi asam amino. Proses digesti ini dimulai dari mulut dan terakhir di usus halus.
·         Absorbsi
Molekul-molekul zat makanan dari saluran pencernaan akan diabsorpsi kedalam aliran darah dan aliran limfe tergantung dari jenis makanannya. Lemak dan zat yang larut dalam lemak diabsorpsi melalui  proses difusi sederhana kedalam aliran limfe, sementara monosakarida, asam amino dan zat yang larut dalam air diabsorpsi kedalam aliran darah melalui proses difusi difasilitasi dan transport aktif. Proses ini terutama terjadi pada usus halus.
Sisa makanan yang tidak dapat dicerna dikeluarkan dari tubuh melalui anus. Makanan yang masuk kedalam tubuh dimetabolisme didalam sel untuk menghasilkan energy, membentuk jaringan, hormon, enzim dan sebagainya.
Makanan dapat bergerak dari saluran cerna bagian atas sampai ke anus karena adanya gerakan peristaltic yang berasal dari kontraksi ritmis dari usus yang diatur oleh system syaraf autonom dan saraf enteric. Sepanjang saluran cerna makanan bercampur dengan sekresi saluran cerna seperti mucus, elektrolit, cairan dan enzim.
Sulit untuk mengelompokan gangguan system pencernaan berdasarkan fungsional, karena seringkali masalah secara bersama-sama mengganggu digesti dan absorpsi, sebab jika makanan mengalami gangguan digesti, makanan tersebut tidak dapat diabsorpsi. Oleh karena itu, masalah akan dikelompokkan berdasarkan area, yaitu ; masalah Esophagus, masalah Gaster, masalah Usus Halus, masalah Colon dan masalah Organ Asesori
MASALAH ESOFAGUS
1.       1. Kegagalan menelan
Menelan dikoordinasikan oleh pleksus Auerbach sehingga terjadi kontraksi-relaksasi yang temporer pada otot-otot gastrosofageal dan otot-otot orofaringeal. Melalui proses tersebut makanan akan masuk kedalam gaster.
Dysphagia; kesulitan menelan, dapat terjadi karena masalah neuromuscular ataupun penyakit syaraf seperti pada myesthania gravis, polio bulbar, muscular dystrophy, botulism. Pada keadaan ini otot tak mampu berkontraksi dan peristaltic saluran cerna menjadi hilang. Hal ini akan menyebabkan stagnasi makanan.
Dysphagia dapat juga diawali oleh adanya tumor yang menyumbat saluran cerna atau menurunnya kontraktilitas esophagus misalnya pada achalasia yang terjadi karena kontraktilitas pada 2/3 bagian bawah esophagus menurun yang disertai dengan kerusakan spincter gastroesofageal akibat degenerasi serabut saraf pada pleksus Auerbach.
2. Inflamasi mukosa esophagus
Dalam kondisi normal, esophagus dilindungi oleh mucus yang disekresi oleh tunika mukosa dan kontraksi spincter gastroesofageal yang mencegah cairan lambung masuk ke esophagus. Jika oleh karena suatu keadaan misalnya pada hiatal hernia, cairan lambung refluks ke esophagus, hal ini akan menyebabkan iritasi pada esophagus yang akan menyebabkan esofagitis, sehingga akan menimbulkan rasa nyeri dan sulit menelan.
MASALAH GASTER
Gaster berfungsi mencampur, mengaduk dan memecah molekul makanan menjadi partikel-partikel yang kecil sehingga permukaan makanan yang akan kontak dengan enzim selama proses digesti menjadi lebih luas. Gaster juga menghasilkan 2-3 liter cairan per hari yang berisi elektrolit, air, mucus, asam hidrochlorid, enzim pepsin dan lipase, serta factor intrinsic. Makanan yang sudah halus bercampur dengan sekresi gaster mempunyai konsistensi yang kental, membentuk kimus (Chyme). Chyme ini memfasilitasi proses digesti pada usus halus. Adanya gangguan pada gaster menyebabkan terhambatnya proses digesti pada usus halus yang akan menghambat juga proses absorpsi.
1. Obstruksi gaster
Obstruksi gaster yang paling sering terjadi adalah karena stenosis pylorus yang terjadi secara congenital. Manifestasi yang tampak adalah adanya muntah-muntah dan regurgitasi yang terjadi pada usia 1-2 minggu sehingga pertumbuhan bayi terhambat (failure to thrive). Dapat juga ditemui pada orang dewasa sebagai komplikasi dan inflamasi yang dihubungkan dengan ulkus gaster, kanker gaster atau kanker pancreas.
Adanya sumbatan pada pylorus menyebabkan muntah yang persisten sehingga intake nutrisi menjadi terganggu dan kehilangan asam lambung yang dapat mengakibatkan tubuh menjadi lebih alkalis, ratio H2CO3 : NaHCOadalah <1 : 20 atau disebut juga alkalosis metabolic.
2. Neoplasma gaster
Neoplasma gaster dapat terjadi di berbagai tempat tetapi utamanya terjadi pada daerah pylorus. Neoplasma dapat berupa tumor benigna ataupun maligna. Benigna pada gaster seringkali tidak menimbulkan gejala (asimptomatik), kecuali jika tumor tersebut menyebabkan obstruksi. Sedangkan maligna pada fase awal hanya merupakan pertumbuhan suatu masa pada gaster, tetapi pada fase berikutnya akibat proses keganasan menyebabkan penekanan pada pembuluh darah dan sel-sel kanker memproduksi enzim dan toksin metabolic yang mampu merusak sel sekitarnya maka terjadi kerusakan pada lapisan mukosa gaster yang tidak sembuh-sembuh. Hal ini menimbulkan rasa nyeri yang hebat, anorexia, muntah-muntah, kehilangan berat badan dan perubahan dalam kebiasaaan defekasi.
3. Inflamasi gaster
a. Gastritis Akut
Perubahan degenerative yang biasa terjadi pada lapisan superficial yang disebabkan karena terpaparnya gaster oleh zat irritant seperti alcohol, aspirin, steroid dan asam empedu. Zat kimia ini menyebabkan terganggunya barriers mukosa gaster yang menyebabkan kerusakan pada tunika mukosa gaster. Keadaan ini menyebabkan hydrogen masuk kejaringan gaster sehingga keasaman interstitial gaster meningkat yang dapat merangsang pengeluaran zat vasoaktif seperti histamine, serotonin, kinin, yang mengakibatkan meningkatnya permeabilitas kapiler, dan vasodilatasi yang menimbulkan edema, infiltrasi limfosit dan sel plasma. Manifestasi yang muncul adalah nyeri epigastrium, anorexia, mual dan muntah sehingga intake nutrisi menurun.
b. Gastritis Kronis
Perubahan degenerative yang menimbulkan atropi beberapa sel fungsional tunika mukosa sehingga produksi asam lambung dan factor intrinsic menurun. Keadaan ini menyebabkan gangguan digesti yang dapat menyebabkan gangguan aborpsi zat menurun dan menurunnya factor intrinsic menyebabkan gangguan absorpsi vitamin B12 yang menyebabkan terjadinya anemia pernisiosa.
c. Peptic Ulcer
Jika sekresi asam lambung menyebabkan degenerasi dan nekrosis mukosa gastrointestinal, terjadilah peptic ulcer (Ulkus Peptikum). Adanya ulkus menurunkan kemampuan sekresi sel gaster yang akan merangsang hipertropi pylorus yang yang akan menyebabkan stenosis pylorus.
d. Ulcus Duodenum
Hiperstimulasi sel parietal oleh N.Vagus yang menyebabkan massa sel bertambah sehingga sekresi asam lambung meningkat. Selain itu dapat juga disebabkan oleh peningkatan sekresi gastrin yang abnormal akibat adenoma sel-sel non β pulau Langerhans (Zollinger-Ellison Syndrome).
MASALAH USUS HALUS
Usus halus adalah bagian dari saluran cerna yang merupakan tempat digesti terakhir dan tempat absorpsi zat makanan, sehingga gangguan pada usus halus menyebabkan gangguan digesti dan absorpsi.
1. Gangguan digesti-absorpsi
a. Crohn’s disease
Merupakan peradangan kronis yang terutama terjadi pada ileum. Lesi terdapat pada nodus limfatik sehingga menyebabkan obstruksi limfatik yang mengakibatkan penebalan lapisan submukosa yang akan menghambat proses absorpsi zat makanan.
b. Zollinger-Ellison syndrome
Peningkatan sekresi gastrin abnormal menyebabkan peningkatan sekresi asam lambung sehingga lingkungan pada intestine menjadi sangat asam yang mengakibatkan tidak aktifnya enzim pancreas, presipitasi garam-garam empedu. Keadaan ini menyebabkan makanan pada usus tidak tercerna sehingga tidak dapat diabsorspsi.
c. Gastroenteritis akut
Bakteri  dan virus yang menyebabkan inflamasi pada gastroenteritis menimbulkan kondisi patologis melalui 3 cara yaitu; agent toxigenic (misalnya Shigella dan E.Colli) dengan cara mengeluarkan enterotoxin yang bekerja pada usus halus sehingga terjadi local inflamasi dan diare; invasive mikroorganisme pathogen (misalnya Shigella, Campylobacter) dengan cara menembus dinding usus halus atau colon sehingga terjadi nekrosis jaringan dan menyebabkan ulkus; dan virus pathogen (misalnya rotavirus) dengan cara menempel pada mukosa epithel tanpa melakukan invasi tetapi merusak villli-villi usus sehingga absorpsi cairan dan elektrolit terganggu.
Efek yang umum terjadi dari patologis diatas adalah meningkatnya motilitas usus dan meningkatnya kecepatan sekresi cairan dan elektrolit kedalam lumen usus. Akibatnya dengan segera dapat terjadi dehidrasi, gangguan keseimbangan elektrolit, shock hipovolemik dan kematian, tergantung dari beratnya kerusakan dan cepatnya kehilangan cairan-elektrolit dan cepatnya penanggulangan. Menempelnya agent pathogen pada mukosa usus dapat dihambat oleh mekanisme pertahanan non spesifik pada host yaitu dengan adanya bakteri flora normal, pH gastrointestinal dan motilitas gastrointestinal.
d. Celiac disease
Ditandai dengan adanya degenerasi sel usus halus yang menyebabkan defisiensi lactase yang mengakibatkan gangguan dalam digesti laktosa susu.
Manifestasi dari gangguan digesti-absorpsi adalah :
·         Menurunnya supply nutrient ke jaringan sehingga pembakaran zat makanan menurun yang menyebabkan produksi energy berkurang yang dimanifestasikan dengan adanya kelemahan fisik.
·         Penggunaan massa tubuh sebagai sumber energy yang menyebabkan penurunan berat badan.
·         Apabila keadaan ini berlangsung lama, penurunan absorpsi protein dan penggunaan massa tubuh sebagai sumber energy menyebabkan menurunnya albumin plasma sehingga tekanan onkotik menjadi rendah, terjadilah  perpindahan cairan ke interstitial (edema). Pada keadaan yang berat, sintesa protein menurun, massa otot berkurang, anemia dan defisiensi enzim.
2. Obstruksi usus
Obstruksi pada usus halus menimbulkan gerakan anti peristaltic dari usus halus yang menyebabkan cairan usus terkumpul diatas obstruksi dan sebagian kembali ke lambung dan muntah bersama dengan cairan lambung.  Terkumpulnya cairan diatas obstruksi menyebabkan distensi yang menyebabkan tekanan pada lumen usus meningkat sehingga mengakibatkan ischemia dinding usus, akibatnya permiabilitas kapiler meningkat dan cairan shift ke cavum abdomen. Terjadi pelepasan bakteri dan toksin dari usus  yang nekrosis ke peritoneal dan system sirkulasi , dan menyebabkan munculnya peritonitis dan septicemia.
Selain itu, akumulasi cairan pada lumen proximal menyebabkan proliferasi bakteri, serta kehilangan cairan dan elektrolit yang mengakibatkan menurunnya volume ekstra sel yang mempunyai potensi untuk terjadinya shock hypovolemik.
MASALAH COLON
Colon merupakan bagian saluran cerna yang berperan dalam absorpsi cairan dan elektrolit. Cairan agar bergerak dari tekanan osmotic yang rendah (pada lumen colon) ke tekanan yang lebih tinggi  (pada epitel colon). Jika terjadi gangguan absorpsi pada usus halus akan mengakibatkan osmolalitas chime pada colon lebih tinggi dari tekanan osmotic pada epitel colon sehingga proses absorpsi air tidak terjadi bahkan sebaliknya cairan akan tertarik ke lumen usus yang menyebabkan tubuh akan kehilangan banyak cairan yang biasanya membawa elektrolit.
1. Inflamasi
a. Diverticulitis
Adalah pembentukan kantung-kantung kecil pada dinding intestine (diverticuli). Diverticuli ini mudah terkena radang yang disebut diverticulitis dengan manifestasi adanya rasa nyeri dan jika perforasi menyebabkan perdarahan dan peritonitis.
b. Colitis ulcerative
Adalah suatu peradangan pada colon yang ditandai dengan edema dan kongesti jaringan mukosa yang akan menghambat absorpsi air sehingga feses yang terbentuk menjadi encer (diare) dan seringkali bercampur darah.
c. Obstruksi colon distal
Obstruksi pada colon distal menyebabkan feses tertumpuk diatas obstruksi. Dalam beberapa minggu klien mengalami konstipasi yang hebat. Pada tahap awal muntah tidak hebat, tetapi jika colon sudah terisi penuh, kimus dari usus halus tidak dapat bergerak ke colon, menyebabkan muntah hebat, colon rupture dan hipovolemia.
d. Neoplasma
Neoplasma yang terjadi pada colon bisa berupa tumor benigna maupun maligna. Pada tumor benigna seringkali pada awalnya asimptomatik kecuali jika besarnya tumor sudah mengganggu passage usus sehingga menimbulkan manifestasi obstruksi.
Manifestasi yang pada tumor maligna bisa menyebabkan bermacam-macam tergantung dari lokasi maligna. Maligna yang tumbuh pada colon ascenden dimana isi colon berbentuk cairan yang halus, isi lumen usus akan melewatinya dengan relative mudah sehingga manifestasi obstruksi tidak tampak sampai maligna ini tumbuh lebih lanjut. Tetapi jika maligna tumbuh pada area descenden dimana isi lumen usus adalah setengah padat memungkinkan terjadinya manifestasi obstruksi dan menimbulkan nyeri, distensi abdomen dan diare jika maligna menyebabkan penyempitan lumen colon.
e. Gangguan motilitas usus
Terdapat dua jenis masalah yang terjadi akibat gangguan pada motilitas usus, yaitu konstipasi dan diare.
Konstipasi, dapat terjadi karena kebiasaan buruk untuk menunda keinginan buang air besar, atau akibat kerusakan syaraf yang menyebabkan stimulasi terhadap reflex defekasi terganggu.
Diare, adalah peningkatan frekuensi defekasi (>3 kali) yang disertai dengan konsistensi feses yang cair. Hal ini dapat terjadi karena meningkatnya peristaltic usus sehingga absorpsi air mengalami gangguan. Keadaan ini merupakan akibat meningkatnya stimulasi saraf parasimpatis yang menyebabkan peningkatan peristaltic usus dan peradangan atau infeksi virus/bakteri yang menyebabkan iritasi mukosa yang mengakibatkan meningkatnya sekresi mucus dan motilitas usus yang pada akhirnya tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit.
MASALAH ORGAN ASESORI
1. Pancreas
a. Pancreatitis akut
Pancreatitis akut, umumnya terjadi karena obstruksi ductus biliaris sehingga sekresi pancreas (enzim) terbendung. Tripsinogen dalam jumlah yang sangat banyak memungkinkan melebihi kapasitas tripsin inhibitor sehingga sebagian kecil menjadi tripsin yang akan merubah enzim non aktif menjadi enzim yang aktif dan terjadilah autodigesti yang menimbulkan nyeri hebat. Jika autodigesti mencapai permukaan pancreas, enzim akan dikeluarkan dan masuk ke cavum abdomen dan menimbulkan peritonitis dengan manifestasi demam, leukositosis, distensi abdomen dan nyeri tekan abdomen.
Dengan adanya obstruksi, enzim pancreas masuk kedalam aliran darah, sehingga pada pemeriksaan darah akan dijumpai peningkatan lipase pancreas dan amylase pancreas dalam serum. Selain itu terhambatnya pengeluaran enzim ke duodenum menyebabkan gangguan dalam digesti-absorpsi dan adanya nyeri hebat dan gangguan digesti menyebabkan perasaan mual dan muntah-muntah
Selain itu terjadi perpindahan calcium extrasel ke jaringan pancreas yang mengalami degenerasi yang menyebabkan terjadinya hipocalcemia.
b. Pancreatitis kronis
Merupakan penyakit degenerasi jaringan pancreas akibat suatu radang  yang mengakibatkan terbentuknya jaringan nekrotik yang akan di ikuti dengan pembentukan jaringan fibrotic. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan alcoholism, malnutrisi atau keduanya yang seringkali disertai dengan akumulasi calcium pada ductus pancreas yang menimbulkan obstruksi dan kadang-kadang disertai obstruksi ductus biliaris yang menyebabkan terhambatnya sekresi kandung empedu ke duodenum.
Keadaan ini menyebabkan terjadinya ikterus, gangguan  dalam pencernaan lemak dan pembentukan jaringan ikat pada pancreas menyebabkan kemampuan sekresi pankreas juga menjadi terbatas sehingga mengganggu digesti-absorpsi. Gangguan absorpsi lemak menyebabkan vitamin K tidak dapat diabsorpsi dengan akibat terganggunya aktivitas factor pembekuan II, VII, IX dan X yang dimanifestasikan dengan perdarahan.
2. Hepar dan Empedu
a. Gangguan produksi dan ekskresi bile
Bile diproduksi oleh hepar dan disimpan dikandung empedu untuk disekresikan ke duodenum. Ada beberapa masalah yang dapat terjadi, diantaranya adalah :
·         Produksi bilirubin yang berlebihan
Terjadi karena meningkatnya destruksi sel darah merah sehingga bilirubin unconjugated meningkat melebihi kemampuan hepar untuk melakukan konjugasi. Bilirubin unconjugated ini akan kembali bersirkulasi didalam darah dan menyebabkan perubahan warna kulit menjadi ikterik. Keadaan ini seringkali dijumpai pada bayi baru lahir. Sedangkan pada anak yang lebih besar dan  orang dewasa destruksi eritrosit yang berlebihan dapat terjadi pada keadaan sickle cell anemia, anemia pernisiosa, transfuse darah, reaksi terhadap obat atau pada thalasemia.
·         Insufisiensi ekskresi bilirubin
Pada keadaan ini bilirubin yang sudah dikonjugasi dihepar tidak dapat masuk kedalam duodenum karena kompresi ductus biliaris intrahepatik (pada hepatitis atau chirosis hepatis), oklusi ductus biliaris ekstrahepatik (misalnya oleh Ca.Pancreas),akibatnya bilirubin yang sudah dikonjugasi kembali diabsorpsi oleh liver dan masuk kedalam aliran darah sehingga terjadi ikterik, warna urine seperti teh, menurunnya produksi sterkobillin dan urobilinogen sehingga feses menjadi tidak berwarna melainkan seperti dempul (pucat), dan gangguan dalam digesti dan absorpsi lemak dan vitamin yang larut dalam lemak.
b. Gangguan fungsi sel hepar
·         Hepatitis
Adalah peradangan pada jaringan hepar yang dapat disebabkan oleh zat toksik (alcohol, carbon tetrachloride, asetaminophen dalam dosis yang berlebihan) dan virus pathogen. Pada hepatitis terjadi peradangan yang disertai nekrosis, penurunan fungsi hepar, peradangan sel hepar yang menyebabkan ductus intrahepatik terdesak sehingga ekskresi bilirubin menurun dan bilirubin yang telah dikonjugasi bersirkulasi kembali didalam aliran darah dan meningkatkan kadar bilirubin conjugated, peningkatan bilirubin conjugated dan bilirubin unconjugated didalam darah menyebar keseluruh tubuh sehingga dimanifestasikan dengan keadaan ikterik, bilirubin conjugated yang tidak dapat dialirkan ke kandung empedu menyebabkan sekresi ke duodenum berkurang dan kemampuan mengemulsifikasikan lemak berkurang sehingga pembentukan urobilinogen dan stercobilin menurun.
·         Cirrhosis hepatis
Adalah penyakit hepar kronis yang ditandai dengan degenerasi fibrotic jaringan hepar. Hal ini hampir semua terjadi karena hepar mendapatkan stress yang terus menerus dalam waktu yang lama dan akhirnya terjadi kerusakan sel yang irreversible. 50% dari penyakit ini diperkirakan disebabkan oleh chronic alcoholic hepatitis (Iaennec chirrosis) dimana pengaruh toksik dari ethanol adalah penyebabnya, penyebab lainnya adalah infeksi hepatitis virus, toxic hepatitis dan biliary statis. Pada Negara berkembang mungkin juga karena perlemakan hati yang hebat karena kekurangan kalori protein yang berat dalam waktu yang lama.
Karakteristik chirrosis adalah terjadinya nekrosis jaringan yang mengenai 2/3 bagian hepar, penggantian sebagian jaringan nekrotik oleh jaringan ikat penunjang yang permanen, dan pembentukan nodul besar untuk mengganti sebagian jaringan hepar yang nekrotik.
Akibat dari perubahan struktur ini maka suplai darah menurun yang menyebabkan sel hepar mengalami ischemia, vena dalam hepar tertekan oleh nodul, venous return menurun dan terjadi congesti (hiperemi), meningkatnya tekanan darah kapiler porta yang menyebabkan edema dinding intestine.
Manifestasi klinis akan berkembang lambat dan asimptomatis untuk periode yang lama. Tanda dini adalah lesu, anorexia, nyeri tumpul perut kanan atas, mual dan muntah. Manifestasi lebih lanjut adalah adanya tanda-tanda hepatic cellular failure dan portal hypertension.
·         Hepatic cellular failure
hepatic celluler failure menggambarkan keadaan dimana hepar gagal dalam melakukan fungsinya. Manifestasi yang dapat dijumpai adalah menurunnya fungsi prothrombin dan fibrinogen sehingga cenderung terjadi pendarahan, menurunnya produksi albumin sehingga tekanan osmotic koloid menurun  dan menyebabkan edema,terjadi ikterus, hiperglikemia, meningkatnya ammonia dalam darah karena ketidakmampuan hepar untuk merubah ammonia menjadi ureum sehingga terjadi penurunan tingkat kesadaran, keadaan tersebut ditambah dengan menurunnya kemampuan hepar untuk melakukan detoxifikasi lainnya, menyebabkan terjadinya hepatic coma atau hepatic encephalopathy.
·         Portal hypotension
2/3 aliran darah ke hepar berasal dari Vena Porta dan 1/3 nya berasal dari Arteri hepatica. Seluruh darah yang mengalir ke hepar akan dikeluarkan melalui Vena hepatica untuk menuju ke Vena cava inferior. Terhambatnya aliran darah ke hepar menyebabkan peningkatan tekanan darah dalam vena porta. Peningkatan tekanan darah ini mendesak darah dari Vena Porta untuk shunted ke pembuluh kolateral, Vena esophagus merupakan pembuluh darah yang paling sering digunakan sebagai jalan pintas menuju Vena cava, sehingga tekanan pada Vena esophagus meningkat, pembuluh darah berdilatasi dan menimbulkan varices esophagus. Jika tekanan terus menerus meningkat dapat menyebabkan pembuluh darah ini pecah dan menyebabkan perdarahan.
Menurunnya venous return menyebabkan tekanan darah kapiler dalam hepar meningkat, yang akan meningkatkan pembentukan cairan limfe dan berkumpul dirongga peritoneum membentuk ascites. Terjadinya hiperglikemia dan hiperamonia sama seperti pada hepatic failure.
Akibat dari kongesti Vena porta menyebabkan limpa membesar dan terjadi peningkatan destruksi sel erithrosit, leukosit dan thrombosit pada reticuloendothelial yang menyebabkan anemia, rentan terhadap infeksi dan kecenderungan perdarahan menjadi bertambah.